Kisah Sedih Michael Essien Saat Masih Berkostum Real Madrid

Bermain untuk klub terbaik dunia seperti Real Madrid tidak menjadi jaminan bagi seorang pemain merasa bahagia. Ada banyak contoh dalam kasus ini, termasuk diantaranya mantan gelandang Persib Bandung, Michael Essien.

Nama Essien mulai melambung sejak tampil apik bersama dengan Olympique Lyon. Pemain Ghana itu kemudian dibeli Chelsea pada musim panas tahun 2005, Jose Mourinho adalah sosok dibalik transfer ini.

Menariknya, Essien kembali diboyong Mourinho saat pelatih asal Portugal menangani Real Madrid, tepatnya di tahun 2012. Dia didatangkan dengan status pinjaman selama semusim dari Chelsea.

Transfer ini seolah menunjukkan bahwa memang ada hubungan kedekatan antara Mourinho dengan Essien. Sayangnya, bersama Real Madrid, Essien tidak mendapatkan kesempatan bermain banyak karena cedera.

Selain itu, klub juga gagal meraih gelar juara di akhir musim yang kemudian berujung pada pemecatan Mourinho.

Kenangan buruk Essien di Real Madrid pun bertambah tatkala dia merayakan hari jadi yang ke-30 tahun.

Saat itu, pemain Ghana ini mengundang semua pemain Real Madrid, sayangnya dari semua pemain yang dia undang hanya dua diantaranya yang bersedia hadir. Kedua pemain itu adalah Luka Modric dan Ricardo Carvalho saja.

Kisah inipun heboh setelah sebuah akun twitter memposting foto Essien bersama dengan Modric dan Carvalho yang sedang merayakan pesta ulang tahun.

Foto tersebut kemudian ramai diperbincangkan di Sosial Media, kebanyakan Netizen ikut bersimpati atas apa yang dialami oleh Michael Essien.

Kendati memang belum ada konfirmasi langsung dari Essien, tapi Jose Mourinho sudah pernah menceritakan kisah sedih ini dalam buku yang ditulis Rob Peasley.

“Mourinho mengatakan bahwa Madrid adalah klub politik dengan faksi-faksi yang bertikai dan menceritakan kepada saya sebuah cerita tentang Essien mengundang rekan satu timnya ke ulang tahunnya yang ke-30 tetapi hanya beberapa yang muncul.”

“Ia harus menghibur Essien, mengatakan itu bukan masalah pribadi dan itu tidak berarti para pemain tidak menyukainya tetapi mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri dan memiliki hal-hal yang lebih baik untuk dilakukan.” Tulis Rob Peasley dalam bukunya.

Leave a Comment